Jumat, 21 Agustus 2020

Jangan Mengumpat, please!

Sebenarnya aku malas sekali mengumpat virus Corona, meski semua orang melakukannya akhir-akhir ini, boleh dikata aku orang yang sama sekali tidak peduli tentang hal itu. Yah walaupun dampaknya turut kurasakan.

Aku jadi tidak bisa pulang kampung, gaji ku yang seupil ikut di potong, sampai aku ga bisa salaman, mencium tangan orang tua untuk mendapatkan berkah dari mereka. Aku merasakan dampak itu juga, sama seperti yang lainnya.

Tapi ada satu hal yang membuatku benar-benar menyalahkan virus itu, perekonomian perusahaan - perusahaan bisa dikatakan gawat, gaji tertunda dan terpotong seperti yang ku katakan tadi, mungkin bagiku, itu tidak masalah, tapi bagi orang-orang hal itu membuat mereka jadi emosian, kalut, uring-uringan, hingga berdampak pada emosional mereka yang disalurkan ke orang lain. 

Konyol kan? Aku merasakan dampak itu sekarang, banyak org yang kemudian setres karena tidak punya uang, kemudian beralih mencari kesalahan lalu marah dan melampiaskan penderitaan mereka, seolah ia ingin di ketahui bahwa ia menderita, atau ia ingin orang lain ikut merasakan apa yang ia rasakan. 

Singkatnya, jangan sampai Corona membuat kalian berpikir bahwa rejeki dari Allah akan terpengaruh, tidak akan! Kutegaskan tidak akan!

Atau masih belum yakin? Sini ke Berau, ku ajak kamu bersyukur meskipun uang di dompet hanya 10 ribu 💓

Kamis, 23 Juli 2020

Rindu

Berau Hari ke enam

Diusia ke 24, perantauan ketiga ku, setelah dari Mamuju, Balikpapan, kemudian ketempat ini.

Jauh dari keluarga, jauh dari teman. Tidak punya siapa-siapa. Hanya sendiri, benar-benar sendiri.

Dulu, aku pernah berpikir bahwa mungkin menyenangkan ketika hidup tanpa gangguan siapapun, hanya sendiri, lebih produktif, lebih bisa sebebasnya tentunya.

Ternyata aku salah, aku tidak seintrovert itu. Aku merindukan semuanya. Aku butuh teman cerita. Aku Butuh keluargaku.

Hidup di Berau, bukan main-main. Hidup disini dengan tanggung jawab yang besar, aku ibaratkan nasib bebrapa orang bergantung pada keberhasilanku disini.

Entah dengan apa aku memulainya, tapi semoga selalu ada kabar baik yang bisa ku sampaikan pada mereka.

Aku rindu kantorku, aku rindu kudabesiku. Aku rindu kost ku. Aku rindu kasurku. Aku rindu Bu de kost ku. Aku rindu kantinku.

Malam ini, diruangan 2x3 ini. Aku sendirian, tak ada siapa-siapa. Tak kenal siapa-siapa. Aku jadi paham, saat sendiri, kita jadi mampu mengingat segala yang pernah terjadi dengan begitu detail.

Disini, di Berau, diruangan 2x3 ini, aku juga sempat mengingatmu, mengingat semuanya, kenangan, kebencian, harapan, atau sisa-sisa rasa yang mungkin masih ada. Meski beberapa kali kuakui itu sudah cukup usang.

Aku rindu. Rindu segalanya. Dan kau salah satunya. Semoga kita bisa bertemu lagi. 

Berau 23 Juli 2020.
Ditulis dalam keadaan rindu :)

Sabtu, 18 Juli 2020

Catatan

PRIVATISASI RUANG PUBLIK DALAM PERSPEKTIF HUKUM DAN AGRARIA : KASUS JUAL BELI PULAU DAN KOMERSIALISASI DAERAH PESISIR BALIKPAPAN


Seiring dengan pemindahan ibukota baru, penjualan tanah dan pulau semakin massif terjadi. 

Hal itu dikhawatirkan dimanfaatkan oleh segilintir pejabat lokal untuk mendulang keuntungan atau memperkuat posisi politik dimasa mendatang.


Terbaru ini, publik dihebohkan dengan adanya praktik jual beli pulau dikawasan Sulawesi Barat, yang melibatkan politikus lokal dari Ibu Kota Baru, Abdul Gaffur Mas'ud Bupati Penajam Paser Utara.


Pulau tersebut bernama pulau Malamber yang terletak digugusan pulau Balabalakang provinsi Sulawesi barat. Secara administrasi pulau Malamber berada di Kecamatan Balabalakang Kabupaten Mamuju. Namun secara geografis, pulau tersebut berada di selat Makassar, lepas pantai timur pulau Kalimantan, tepatnya ditengah-tengah antara pulau Kalimantan dan pulau Sulawesi.


Gugusan pulau Balabalakang tercatat seluas 1,45 KM persegi yang dihuni oleh mayoritas suku Bajau, sebuah suku yang dikenal hidup dikawasan perairan. 


Selat-selatnya yang dangkal memberikan keuntungan berupa hasil laut yang melimpah,  karena keindahan alamanya dan memberikan sumber daya perikanan yang melimpah, membuat tak sedikit pihak yang ingin memiliki pulau-pulau dikawasan ini. Penjualan pulau Malamber adalah bukti dari hal tersebut.


Namun sejauh ini, seperti apakah perlindungan terhadap warga pesisir yang harusnya menikmati kebebasan di kawasan pulau yang dikomersialisasi tersebut ?

Pradarma Rupang Dinamisator Jatam Kaltim dalam ruang diskusi virtual mengatakan jual beli pulau yang marak terjadi ini melibatkan banyak pihak mulai dari oligarki dan pejabat lokal. 

Selain itu, nantinya akan ada perebutan ruang pesisir, akibat privitasasi pulau yang harusnya menjadi ruang gerak masyarakat pesisir. 


Tidak dapat dipungkiri bahwa jual-beli pulau yang ada di daerah pesisir Pulau Sulawesi tersebut sangat menguntungkan, mulai dari strategis sebagai lokasi penyaluran logistik, hingga pemindahan ibukota baru.


Sebelumnya Jual beli Pulau Ini pertama kali diketahui dari pemberitaan media Sulawesi Barat. Dugaan itu semakin diperkuat dengan adanya pengakuan pejabat setempat mulai Camat hingga ke Polres. Dari situ kemudian muncul bahwa ada rencana penggunaan sekat-sekat daerah pesisir oleh pejabat setempat. 


Lebih lanjut Pradarma Rupang mengatakan bahwa berdasarkan amatan JATAM, sepanjang pantai Balikpapan telah di Kavling dan diberikan izin untuk melakukan penimbunan berkedok Coastal road sepanjang 8500 meter dari pelabuhan Semayang hingga ujung landasan Bandara Sepinggan.

Proyek ambisius ini tentu bukan untuk warga Balikpapan, namun akan menghilangkan sempadan pantai dan merampas ruang nelayan serta masyarakat pesisir.


PRAKTIK JUAL BELI PULAU MELANGGAR KONSTUTUSI RI


Haris Retno Susmiati, Dosen Hukum Universitas Mulawarma, mengatakan bahwa praktek jual beli pulau-pulau kecil di Indonesia, terutama di kota Balikpapan merupakan suatu pelanggaran konstitusi.


Sebagaimana dalam undang-undang dasar ayat 33 pasal 3 yang tertulis "Bumi air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

Menurut Haris, kepemilikan pulau kecil di wilayah Indonesia secara pribadi, tidak sesuai dengan pasal 36, 37, 42 43, 44, dan 45 dalam undang-undang nomor 27 tahun 2007, tentang pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. 


Dalam undang-undang ini juga diatur bahwa batas pasang atas pulau dan batas pasang bawah pulau, adalah milik publik dan tidak dapat diperjual belikan. 


Lebih jauh diatur pula bahwa pulau-pulau kecil hanya dapat dimanfaatkan dalam kepentingan riset, pendidikan dan wisata bahari.


Sementara itu, Dianto Bachriadi anggota Komnas HAM mengecam praktek jual beli pulau yang marak terjadi saat ini. Menurutnya dalam proses jual beli sektor agraria, Tidak ada satupun konstitusi yang memperbolehkan jual beli ruang publik menjadi milik pribadi.


Hal itupun menjadi sangat janggal, karena sampai saat ini, masih saja ada izin dari pemerintah daerah untuk melakukan praktik itu.

Indikasinya adalah karena para pemegang kepentingan atau kaum kapitalis semakin ingin memperkaya dirinya sendiri tanpa memikirkan masyarakat yang terdampak. Serta semakin menciptakan sekat-sekat baru kapitalisme.


Nita Rahayu

Sabtu, 06 Juni 2020

Selamat jalan

Setiap temu akan pisah, setiap tamu akan ada kisah, bertemulah, bertamulah, disitu kamu akan tau betapa dalamnya arti terimakasih.

Terimakasih untuk salah satu saudara, teman, sahabat, yang telah menemani selama sembilan bulan di titik bara kehidupanku.

Benar katamu, life must go on, kamu membuat pilihan mu sendiri, kamu meninggalkan titik nyamanmu, meninggalkan nyamannya dirumah sendiri, meninggalkan keluargamu, untuk pertama kalinya kamu melangkahkan kakimu jauh dalam jangka waktu yang cukup lama.

Berat rasanya bagiku, kuungkapkan ini meski aku sedikit berat mengakuinya, aku tau kita, aku dan teman-teman yang lain sering sekali beradu mulut atau bertengkar denganmu, tapi bagiku itu bukan karena benci, tapi wujud persahabatan dari sisi yang lain.

Dari yang awalnya kita hanya orang yang tidak tau apa-apa, ya sama-sama tidak tau apa-apa, sama-sama dibanting, dicaci, sama-sama mendengar kata-kata tajam yang menyesakkan setiap harinya. Kita mengalami itu bersama diawal, lalu kamu ternyata melangkah lebih dulu, lebih cepat, dan lebih cepat meraih keberhasilan dibanding aku.
Aku kadang menyesali itu, terlebih ketika atasan kita membandingkan keberhasilanmu dengan kedunguanku, tapi aku selalu ingat kata seseorang yang sering kita temui bersama saat kita liputan distadion, orang itu bilang, jangan keberatan ketika kamu dibandingkan dengan rekan kerjamu yang lain, belum saatnya, bersabarlah, dan buktikan saja diwaktu yang tepat.

Tulisan ini bukan ku dedikasikan untukmu, karena diksinya masih terlalu sederhana untuk menjadi sebuah dedikasi.
Aku hanya ingin berterimakasih karena telah menjadi bagian dari titik bara kehidupanku.
Semoga tidak ada lagi teman yang pergi dan meninggalkan.


Balikpapan 6 Juni 2020
Nita Rahayu


Rabu, 08 April 2020

Balada


Beberapa dari kita hanya bisa hidup mendamba seseorang karena tidak percaya diri.

Beberapa lainnya hanya bisa mendamba karena memilih memberikan kesempatan yang lebih baik dari diri kita buat dirinya.

Beberapa lagi tak pernah tau sosok yang diinginkan seperti apa, hingga menyerah pada takdir hendak membawanya kemana.

Nita Rahayu, 4 April 2020

Jumat, 13 Maret 2020

Nit, harusnya aku pakai shampo apa? :(

Jumat 13 Maret 2020
Dia sholat, dia sholat!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Bagaimana bisa hati tidak luluh melihat tetesan air wudhu itu jatuh disela-sela rambut yang dulunya sering ku elus itu?
Bagaimana bisa aku tidak gila saat takbir itu kau lirihkan?
Bagaimana bisa hatiku baik-baik saja saat kulihat semua sg mu kini mengajak pada kebaikan?
Bagaimana bisa aku tidak semakin ingin memiliki saat kau semakin dekat dengan Rabb ku?
Bagaimana bisa?
Maksudku bagaimana bisa aku jadi sangat tidak tau diri seperti ini?

II

"Nit, kamu kapan mau tahu diri"
Sungguh, sebuah kalimat penghancur bagi hari-hariku, hari ini, sudah 3 kali aku mendengar kalimat itu diucapkan langsung. 
Seandainya bukan karena prinsip "jika kau tak menemukan orang baik didunia ini, maka jadilah orang baik itu" aku pasti lekas akan membenci semua ucapan sampah mereka.
Tapi Rabbku ternyata masih sangat menyayangiku dengan tidak pernah sama sekali menyisipkan rasa benci itu, atau bahkan rasa marah sediktpun. Terimakasih Allah ku.

III

"sudahlah, berhenti, gak akan bisa nit, semakin keras kamu berusaha, kalau yang sebenarnya sedang kamu usahakan memang tidak mau? ya kamu bisa apa?"

Sungguh Tuhan, aku tidak hanya meminta Kebaikan Dunia akhirat, tapi juga memintanya dengan sangat detail. kenapa orang sangat mudah mengatakan hal-hal murahan yang dapat menjatuhkan seseoarng? bukankah orang tidak akan keren hanya karena berhasil menjatukhan orang lain kan?

III

"lupakan.............lupakan................lupakan.....................
bagaimana bisa ? di film namanya ada, di gantungan kunci namanya ada, bagaiamana bisa? hah? bahkan kemana-mana selalu ada orang dengan nama yang sama dengan namanya yang sepertinya sengaja diteriakkan di telingaku..

BRENGSEKKKKK!
AKU RINDU!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Senin, 09 Maret 2020

Kalau saja

Kalau saja..............
Rindu itu mudah diungkapkan, mungkin sikap itu tidak akan sedingin ruangan ICU sekarang...
Kalau saja...............
Perasaan itu akan baik-baik saja ketika dipendam sendiri, petemanan mungkin masih akrab hingga sekarang..
Kalau saja...............
Harapan itu tidak ada sebelumnya, mungkin kita masih akan membuat snapgram konyol bersama..
Kalau saja..........
Tidak ada tangan iseng yang mencampuri urusan rasa ku, mungkin saat ini kita sedang asyik bercanda dan menghina satu sama lain............
Kalau saja.....
Kalau saja kau tidak ada, hidupku pasti baik-baik saja sekarang...
Kalau saja
Kalau saja
Kalau saja
Aku rindu :(