Sabtu, 04 September 2021

Wisata Masa Lalu


 Aku pernah bertemu seseorang, yang dengannya aku sangat merasa istimewa.

Awalnya, Kukira dia takdir, ternyata hanya mampir.
Bersamanya memang singkat
Tapi cukup melekat.
Kukira bersamanya adalah komitmen
Ternyata hanya moment.

Tak perlu kusebutkan namanya, karena kini posisinya ia hanya masa lalu, disamping aku juga telah dibersamai oleh seseorang.

Singkat saja kuceritakan, dia adalah seseorang yang saat itu harus selalu melihatku, mungkin ceritaku agak berlebihan dan terkesan lebay atau aku di anggap bucin, tapi memang begitulah adanya.

Setiap hari, dia harus melihatku, bagaimanapun keadaanya, hujan, atau secapek apapun dia, harus ada satu waktu yang di sempatkan untuk hanya sekedar melihatku.

Jadilah kami berdua menyisihkan waktu di malam hari, usai sholat isya untuk sekedar bertemu, makan atau naik motor berkeliling, kadang 2 jam cukup, atau bahkan hanya 30 menit saja.

Di moment itu, dia tidak akan makan malam jika tidak bersamaku, dia lebih memilih kelaparan, dibanding makan tanpa aku didekatnya. Kadang aku sudah makan tapi tetap harus menemaninya makan, biarpun hanya sekedar duduk didekatnya, yang penting ada aku, katanya.

Semua makanan dan tempat makan terbaru yang sedang hits dikota ini, semua ia datangi ketika bersamaku, mulai dari restoran pizza, ice cream, hingga tempat ayam yang baru buka dan biasa aja, kami berdua datangi.

Ia adalah seorang yang menjemputku dengan motor, jarak rumahnya dan rumahku, lumayan jauh, kami berbeda kecamatan, dan ia dengan senang hati melakukan itu. Ketika bersamanya, dia akan menurunkan stand kaki dimotor sebelum aku bilang, dia akan menguncikan helm tanpa aku minta.

Ketika dengannya, kamu tidak boleh duduk didepannya, dia akan mengangkat kursi agar kamu duduk disampingnya. Dia seorang perokok, tapi ketika bersamaku, dia akan meminta izin terlebih dahulu, aku pernah melarangnya dan dia betul-betul tidak menyalakan rokoknya ketika bersamaku, tapi pada akhirnya aku bilang silahkan. Dia kemudian akan mencari tempat yg aman dan memastikan aku tidak terkena asap rokoknya.

Dengannya, aku tidak pernah membayar makanan ataupun minuman yang kupesan, meskipun aku berlomba untuk membayar, dia akan selalu mengembalikan uangku besoknya. 

Dia juga sangat suka memperkenalkanku pada teman-temannya, ataupun hanya rekan kerjanya. Dia akan selalu bersikap manis ketika bersamaku, tidak peduli berapa banyak orang yang melihat, dia akan memegang tanganku, selalu.

Moment seperti itu terjadi setiap hari selama tiga bulan. Karena keseringan keluar malam, tanpa memakai jaket, akhirnya dia sakit dan harus dirawat di UGD selama beberapa waktu. Dan jahatnya, aku mengetahui itu, setelah ia sembuh dan menceritakannya padaku.

Setelah ia sakit, waktu tiga bulan yang kami lalui itu, perlahan tidak lagi sama. Apalagi setelah aku mulai bosan dengan keadaan yang menurutku tidak jelas.

Sudahkah kujelaskan bahwa aku dan dia tidak memiliki hubungan apa-apa? 

Benar saja, aku dan dia hanya teman, dan aku baru sadar ketika, aku bertanya untuk memastikan. Dia tidak menjawab apapun, ketika aku bertanya, "what do you want"?
Kuanggap maksud diammnya adalah, "aku hanya kesepian".

Sejak saat itu, aku mulai menjaga jarak, aku hanya sesekali membalas pesannya atau mengangkat telponnya. Dia masih sangat rutin menghubungiku. 

Sampai pada saat aku sangat lelah, aku memblokirnya disemua sosial media, tapi dia selalu punya cara, dia download telegram, dan berusaha menghubungiku disana. Tak ada respon apapun dari aku.

Hingga tadi malam ku beritahu, bahwa aku tidak lagi ingin berkomunikasi dengannya, sebagai apapun itu. Ku beritahu bahwa Saat ini aku telah bersama bias yang lain, maksudku, aku sudah punya seseornag yang bisa mengisi kekosongan dalam diriku. 

Kujelaskan padanya bahwa ketidak pastian yang pernah dia tawarkan dulu, akan kuakhiri sendiri, aku tau dia pasti akan tertawa krna aku mengakhiri sesuatu yang tidak pernah dimulai. 

:)



Senin, 16 Agustus 2021

Si pemilih yang kesepian


 Ya aku memang pemilih, standar ku memang terlalu tinggi untuk seorang laki-laki yang akan kujadikan pasangan. Untuk itulah aku masih memilih sendiri.


Laki-laki yang mau menjadi pasanganku, harus laki-laki yang mengerti segala tentang aku, dia harus paham aku tidak suka makanan pedas, aku tidak suka susu fullcream, aku tidak suka makanan bersantan, aku tidak suka menunggu, ya aku tidak sabaran memang. Dia harus memahami ku lebih dari aku memahami diriku sendiri, bahwa aku sangat egois, aku mudah sekali baper, aku mudah marah dan mudah tersinggung, dia harus tau bahwa aku suka bercanda tapi aku tak suka di bercandai.

Lelaki yang mau dijadikan pendamping olehku, haruslah laki-laki yang siap untuk direpotkan, karena aku sangat manja, aku tidak bisa membuka botol air minum, aku tidak membuka bungkus permen, aku tidak suka naik motor ketika panas matahari dan ketika malam hari, aku harus selalu di bonceng, laki-laki yang mau denganku harus tau bahwa aku mabuk ketika naik mobil dan duduk dibelakang, dia harus siap dengan aku yang sangat suka merengek dan mengungkit masa lalu ketika sedang kesal.

Jika dia mau denganku, dia harus selalu mengabariku tanpa membuat aku bosan dengan kabarnya, dia harus nyambung ketika kuajak ngobrol apapun, entah pekerjaan, keluarga, teman, buku, bakso paling enak, Boba yang tidak keras, atau kopi yang rasanya pas, dia harus nyambung segala hal denganku.

Aku memang pemilih, laki-laki yang suka padaku itu harus memberiku semangat dipagi hari dengan suaranya yang khas, dia tidak boleh mengingatkanku makan atau sholat, dia hanya perlu mengajakku makan bersama dan mengirimiku pap ketika dia habis sholat.

Lelaki yang ingin bersamaku harus aku tau kemanapun dia pergi dan dengan siapa, dia harus membalas pesanku, dan dia harus tau kalau aku sangat membenci yang namanya cemburu dan khawatir.

Aku pemilih ? Standarku terlalu tinggi? Iya, karena aku hanya ingin menikah dan jatuh cinta sedalam dan selamanya dengan orang yang sama sampai aku mati.

Jumat, 06 Agustus 2021

Titik Terendah


Hariku hancur, pagi ini aku melihat pengumuman bahwa aku tidak lulus seleksi disalah satu lowongan pekerjaan yang kulamar, lalu menyusul seseorang yang kusukai, tiba-tiba pamit untuk meninggalkan aku.

Belum lagi semalam, perusahaan tempat ku bekerja, ternyata belum bisa membayar gaji karyawannya secara full selama 4 bulan.

Hariku sakit, tak tau lagi harus kemana dan berbuat apa, aku memutuskan untuk mengambil libur hari ini. Tak bekerja karena pikiran sedang kacau balau.

Hariku berantakan, saat harusnya aku punya pundak lain untuk bersandar, tapi kenyataannya, aku sendirian, dan harus memeluk erat semuanya dengan lengan sendiri.

Hariku tak karuan, aku sendirian, tak ada siapapun, aku masih disini, diatas sajadah sejak subuh tadi, skincare pagiku tak berguna sebab ditimpa air mata berkali-kali.

Mataku lebam kanan kiri. Ragaku seperti hancur termakan ekspektasi.

Minggu, 21 Februari 2021

Pamit yang tertunda


 Assalamualaikum, selamat malam...

setelah sekian lama bergelut dengan wordpress dan kompasiana, akhirnya aku menulis lagi di blogspot kesayangan ku ini.

aku tau beberapa pembaca memang hanya tertarik untuk membuka ini karena ingin tau siapa yang sedang kusukai, atau siapa yang sedang kurindukan. Beberapa lagi berharap ada namanya ku sebut dalam tulisanku. Meski pembacaku tak banyak, tapi aku tau 90 dari 100 pasang mata yang membaca dsini hanya ingin kepo tentang kehidupanku.

hey, its okey, aku tidak keberatan. Namun secara sederhana kujelaskan, aku akhir-akhir ini memilih tertutup, aku tidak banyak menceritakan perasaanku pada tulisan. Sebab entah mengapa aku merasa sangat tidak punya waktu untuk itu.

tapi tidak papa, biar ku gambarkan saja apa yang kulakukan akhir-akhir ini, aku banyak membantu teman-teman seprofesiku yang terhitung masih baru disini, bebeapa sering meminta bertemu, beberapa lagi rutin menelponku untuk bertanya hal-hal yang telah lebih dulu aku dapatkan.

dengan kesibukan-kesibukan itu aku jadi tidak memiliki banya waktu untuk menulis segala hal yang kurasakan disini, ya meskipun sebelumnya aku memang telah bergelut dengan wordpres dan kompasian sih.

saat ini, aku merasa sangat rindu pada blog ini, merindukan tulisan ku yang acak-acak tentang seseorang, tentang rindu, atau tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan.

aku rasa blog ini banyak memberiku kenangan pilu.

namun pada akhrirnya, aku memang memilih untuk tidak lagi berbagi perasanku secara khusus di blog ini, dulunya aku memanfaatkn media ini agar suatu saat nanti seseorang yang kusukai bisa tau perasaanku, tapi nyatanya setelah dia tau, dia juga sama  sekali tidak peduli.

itulah mengaapa, aku menyibukkan diriku dengan mencoba kegiatan tambahan, selanjutnya mungkin aku akan menulis lagi disini, tapi entahlah temanya apa, aku juga tidak tau.


Kamis, 10 September 2020

Covid sialan, terimakasih


 Rabu 11 Oktober 2020, karantina hari kedua.

Setelah kontak erat dengan salah satu pasien positif, aku diharuskan menjalani karantina selama 14 hari, gila pikirku.

Selama di kamar kost, segala hal kupikirkan, rasanya karantina ini bukan libur, karena pikiranku tetap bekerja.

Satu hal yang tidak berfaedah yang kulakukan adalah membalas chat-chat lelaki yang penuh basa basi.

Tapi ada satu pembahasan yang menarik, aku mulai bertanya padanya, kenapa aku masih sendiri, padahal aku bisa sombong bila berbicara berapa banyak lelaki yang mendekati.

Dia bilang aku hanya cocok dijadikan sahabat, teman ngobrol, dan teman traveling. 

Aku belum habis pikir, kenapa? Apa yang kamu lihat pertama kali? Dia bilang caraku mengakrabkan diri.

Chat ku tutup dan aku kesal dengan jawabannya. Meski masuk akal, tapi tidak sesuai dengan ekspektasi. Kenapa memangnya? Jawaban dari pertanyaan itu yang sungguh tidak cukup bagiku.

Kembali membuka satu persatu chat yang tidak berfaedah. Penuh basa basi, dan rasanya muak sekali.

"Sudah makan? Aku bawain ya.
"Gimana karantinanya?" Kalau ada apa-apa bilang ya"
Gimana ini? Gimana itu? Dan gimana- gimana lainnya. Muak!

Tapi ada hal yang sangat aku suka dari karantina ini, terlepas dari pertanyaan basa-basi sebelumnya.

Atasanku di kantor juga sangat rutin memberikan perhatian padaku, direkturku, dua orang redakturku, meski belum kalah sama perhatian mbakku, Sandra.

Setiap pagi aku pasti mendapatkan telepon dari mereka, "jangan panik ya, tetep olahraga di kost aja, makan vitamin minum cukup, jangan sampai kamu nda makan, pesen gojek aja makannya, jangan keluar-keluar pokoknya" kata salah satu redakturku.

Tak berselang lama, redaktur yang lain menghubungi, "coba ceritakan gimana kronolginya? Kamu tapi pake masker kan? Gak sampai jabat tangan kan? Kamu ngerasain apa sekarang? Selama karantina ada aja makananmu? Vitamin mu? Makan buah ya nit. Jangan panik pokoknya". 

Lepas itu, direktur ku selanjutnya "mati kah kamu?" Akh selalu dibuka dengan kata yang menjengkelkan, lalu disambung tawa, belum bang kataku. "Kamu sentuhan sama dia? Kamu Deket sama dia? Kamu interaksinya kayak apa sama dia? Dan pertanyaan pertanyaan semacam itu lah.

Meski kadang kami berantem dan bersitegang hingga kaca meja pecah dan air mata jatuh saat bekerja dikantor, tapi ini yang bikin betah, sangat betah, kepedulian dan rasa saling memiliki yang aku yakin susah mendapatkannya di tempat lain.

Kuakui, perusahaan tempatku bekerja juga sedang goyah saat ini, satu persatu karyawan mengundurkan diri karena gaji kami yang tidak selancar dulu. Tak jarang dari karyawan yang mulai mencari pekerjaan baru agar punya pegangan ketika keluar nantinya.

Akupun sempat berpikir demikian, bahkan dua tawaran menggiurkan menungguku untuk mengatakan "ya".

Tertarik, apalagi gaji dijamin lancar, tapi aku sama sekali tidak ingin berpisah dengan teman-teman kantorku, kalaupun satu persatu mereka pergi, aku akan tetap membersamai atasan-atasanku.
Hingga mereka sendiri yang menyuruh aku pindah ❤️



Berau, pagi hari. 
Ditulis dalam keadaan rindu❤️




Minggu, 06 September 2020

P E R G I

 Satu persatu yang disayangi pergi.


Beberapa hari lalu, seseorang yang sangat mengayomi, seseorang yang selalu mengingatkan untuk sholat, seseorang yang berdiri paling depan ketika yang lain saling mendorong untuk imam sholat pergi, pindah dari tempat kita sama-sama mengadu nasib, ia pergi untuk mencari penghidupan yang lebih baik, meninggalkan kami semua, terutama aku, orang yang telah merepotkannya selama setahun lebih, orang yang selalu memintanya menghidupkan server di jam 7 pagi, orang yang selalu memintanya memutar lagu religi di jam break liputan, dan orang yang selalu bertanya perihal nilai dolar padanya. Selamat jalan, semoga sukses.

Kemarin, satu orang ikut pergi, teman, saudara, komedian, dan orang yang paling mengerti tentangku, orang paling gesit ketika kumintai tolong, sampai-sampai yg lain cemburu karena selalu aku yang dinomorsatukan, orang yang selalu ada saat senang dan sedih, orang yang selalu menyemangati saat jatuh, orang yang selalu yakinkan untuk percaya diri, orang yang selalu menunggu ketika kerjaan harus diselesaikan sampai tengah malam, ia pergi meninggalkan luka, mungkin berlebihan, tapi aku tau, setahun bersamanya sangat menyenangkan, ada banyak sekali cerita lucu bersamanya, foto ataupun video yang ketika dilihat pasti akan menciptakan tawa. Aku kehilangannya, sungguh. Sehatlah selalu, mas baik hati.

Dan hari ini, dia juga pergi. Seseorang yang telah memberikan banyak pelajaran hidup, mencintai, membenci dan menerima dengan ikhlas. Aku ingat saat satu kantor mengatakan kami sangat cocok jadi pasangan, hingga akhirnya, kami risih, dan saling menjauh. Sejak saat itu, kami jadi jarang bertegur. Padahal sebelumnya kami terlalu dekat jika hanya sebagai teman, dari awal masuk dia yang selalu mengajari bagaimana seharusnya berlaku dengan profesi yang sedang diemban. Dia yang selalu mengingatkan bagaimana seharusnya aku sebagai perempuan. Meski kadang kami tak akur, bertengkar karena memang dia selalu suka mengangguku. Tapi pada akhirnya semua kembali baik lagi, kadang juga aku dibuatnya menangis karena caranya bercanda yang kelewatan, tapi selalu berakhir dengan dia mengusap kepalaku sampai sama-sama tertawa lagi. hari ini dia pergi, mengejar mimpinya untuk menjadi programmer handal. Aku tau dia sangat lemah, apalagi persoalan sholat, dia lemah sekali, kadang mau sholat kadang tidak, dia pamit dan mendoakan ku jadi anak baik dan berhenti nakal, dasar Abi, aku akan merindukanmu.

Sadar atau tidak, semua yang kita miliki hari ini perlahan mulai pergi, kita sama sekali tidak punya kuasa untuk menahan, yang kita bisa hanya mempelajari ilmu ikhlas, selebihnya Allah lah yang berkuasa atas segalanya.


Berau 6 September 2020

Sabtu, 22 Agustus 2020

Did you say Alhamdulillah today ?

 Tepat sebulan lalu, mutasi tugas seakan membuatku sangat gila. Di lokasi baru, tak ada yang kupikirkan selain pulang, awalnya aku merasa semua orang tak ada yg menyukaiku disini, semua orang tak akan pernah melibatkan ku dalam lingkaran mereka disini. 

Apalagi sejak awal, aku hanya sendirian perempuan, sungguh aku sangat risih, menjadi bahan mereka untuk bercanda, berbicara dengan siapapun pasti gambarku selalu akrab di obrolan grup, fotoku dan foto siapa saja akan di jadikan stiker oleh mereka. 

Awalnya aku memang tidak nyaman, sungguh, yang ada hanya tangis, marah, dan sakit. Beruntungnya aku, ada Direkturku yang baik hati, sangat baik yang selalu memberikan semangat, aku selalu ingat, dia bilang, kita lahir sendiri, mati sendiri, kenapa harus sedih ketika kamu sendiri disana?

Doa-doa terus ku panjatkan, aku gencar meminta pada Rabb ku, memohon agar aku dipertemukan dengan orng-orang baik yang sayang padaku disini, orang-orang baik yang membuatku jadi nyaman.

Mas syaa Allah, Alhamdulillah, Tabarakallah.

Aku dipertemukan dengan banyak sekali orang baik, tak peduli mereka berlatar belakang apa, mereka selalu ingat apapun dan dimanapun mereka berada, mereka makan apapun, aku selalu diajaknya, kunjungan kerja kemanapun aku selalu diajaknya.

Semakin kesini, aku sangat sadar, semua doa, harapan, dan cita-citaku satu persatu di wujudkan oleh Allah, Alhamdulillah, percayalah tak akan ada yang sia-sia jika kau terus berdoa, doa terus, doa lagi. Cepat atau lambat, doa itu pasti dikabulkan. Percayalah. 

Demi Allah, aku menikmati semua kejutan-kejutan kecil yang Allah berikan padaku. Tak apa sesekali diselip kesedihan diantaranya, namun aku sungguh mensyukuri semua hal, alhmdulillah.

Berau - 23 Agustus 2020