Rabu, 28 Mei 2025

Bapak

 

Lima tahun itu ternyata lama sekali.
Lima tahun itu ternyata membuatku melewati banyak sekali hal.


Lewat album foto di hpku, aku menyaksikan banyak sekali episode hidup.


Keluargaku, teman-temanku, tempat yang pernah aku kunjungi, juga diriku sendiri.


Lima tahun lalu, pertama kali aku memutuskan merantau. 

Meninggalkan seluruh kehidupan yang kujalani sedari aku lahir.

Aku meninggalkan semuanya, juga ibu, bapak, adik, kaka dan rumahku.


Aku masih mengingat bagaimana aku melangkahkan kaki pertama kali meninggalkan kampungku, diantar ibu, adik, keponakanku, dan sahabatku ria.


Aku berat hati, kupendam tangisku hingga pecah dijalan.


Tapi aku tetap keras kepala, berjalan, dan membiarkan keluargaku menyaksikan pundakku, perlahan menjauh.


Terjadi banyak sekali hal semenjak aku pergi, semuanya berubah. Rumahku juga.


Di tahun pertama, aku terus melihat ibu ku yang pipinya gemuk, badannya besar, kulitnya putih mulus, rambutnya yang panjang,dan jalannya yang lincah, meski hanya sebatas video call.

Disana, aku juga melihat bapakku yang sangat sehat. Suaranya lantang, senyumnya yang terus merekah, ceritanya yang tak pernah habis.


Aku sering sekali melihat mereka duduk di kursi ruang tamu, bertiga dengan adikku, sesekali juga ada kakak dan keponakanku.


Aku menyaksikan itu hingga di tahun ketiga. Sampai suatu hari, kabar paling menyakitkan sepanjang sejarah hidupku pun akhirnya tiba.


Pukul 03.00 wita, waktu yang katanya penuh dengan kabar buruk itu, mendatangiku.


Ayahku, dia pergi untuk selamanya.


Saat itu, seluruh tubuhku langsung runtuh, tulangku remuk, rasanya aliran darahku pun ikut berhenti. Aku menerimanya, menerima kabar itu, sendiri.


Aku menangis sejadi-jadinya, sendiri. Jauh di perantauan.


Aku hanya bisa pulang, dan mengajak Tuhan untuk bertukar. 

Sepanjang perjalanan, aku terus berbicara dengan-Nya di kepalaku, "Tuhan, bolehkah aku saja? Kumohon jangan bapakku, ibuku sendirian Tuhan, dan adikku masih kecil, tolong Tuhan, aku sedang dilangit, bukankah aku dekat dengan-Mu? Bukankan ini seharusnya sampai?,"

Aku masih terus merasakan itu bahkan hingga dua tahun berlalu.


Aku takut sekali saat belum tidur di pukul 03.00 dini hari. Aku takut sekali ketika hpku berbunyi di jam itu. Aku takut dengan kejadiannya, meski itu adalah sesuatu yang pasti.

Setiap kali mengingatnya, percayalah rasanya masih sama. Ada luka besar yang menganga, letaknya didada. Sakitnya terus ada, sakit sekali.






Selasa, 04 Juni 2024

Nomor

Aku selalu ingin tau sebenarnya aku urutan ke berapa dalam kehidupan ini. 

Dalam hidup ibuku sudah pasti aku nomor satu, sejajar dengan saudaraku, begitupula dengan hidup ayahku.

Dalam hidup saudaraku, mungkin aku nomor kedua atau nomor ketiga, setelah orang tuaku, juga setelah keluarga baru mereka.

Lalu di hidupku, ada adalah nomor kesekian. Padahal aku selalu berdalih aku mementingkan diriku sendiri diatas apapun.

Bagaimana dengan hidup orang yang juga kucintai dan "mengaku" mencintaiku?

Aku penasaran selama beberapa waktu, dan memilih meredam sambil mengetes situasinya.

Kutemui satu hipotesa, jika di hidup orang lain begitu juga dengan orang yang kucintai ada lima kotak.

Pertama kelurganya, kedua pekerjaannya, ketiga teman-temannya, lalu keempat dirinya sendiri. 

Maka kotak kelima bisa saja adalah ruang untuk diriku, ternyata, selain paling belakang, ruangan itu sesungguhnya tidak pernah ada. Aku hanya menciptakan pikiran semu.

Bukti-bukti dalam kepalaku akhirnya menumpuk terhubung satu sama lain. 

Sebenarnya, apakah yang selama ini dilalui pernah sedikit mengarah pada mauku? Tidak rasanya.

Bahkan pertemuan singkat pun tak akan pernah ada jika hanya berdasar pada permintaanku.

Segala sesuatu yang terjadi, selamanya berdasar pada suasana hati satu pihak. 

Entah dilakukan karena merasa bersalah, dan hanya ingin agar perasaannya membaik setelahnya.

Atau hanya ia berlaku sebagai selayaknya manusia yang berbuat baik kepada sesamanya.

Tidak satu hal pun yang benar-benar dilakukan, semata-semata karena adanya "aku".


Kamis, 21 Maret 2024

Maret

Andai bisa melewati satu hari di setiap Maret, 

Satu hari terakhir di bulan Maret,

Tepat dihari ulang tahun.

Kupikir yang menyakitkan saat memasuki ramadan, aku lupa bahwa ramadan kali ini bersamaan dengan ulang tahun.

Sakitnya combo, ada yang benar-benar hilang dan dengan cara apapun tidak akan pernah kembali.

Rasanya dihari itu aku ingin menyetel ingatan, hanya mengingat semua kenangan saat masih lengkap, berkumpul diruang tamu, dengan hidangan nasi tumpeng buatan ibu. Setelah magrib beberapa keluarga akan datang dan berbasa-basi, "sudah ulang tahun ke berapa?,"

Hidup setelah kehilangan tentu tidak akan sama. Setiap kali ada yang menyakiti, rasa sakitnya dua kali bahkan tiga kali lipat. 

Tidak hanya pada fisik, tetap juga pada hati.

Tidak heran jika orang yang kehilangan pijakan, biasanya memasang tameng "jangan jahat-jahat sama aku, soalnya aku yatim,"


Aku terluka di betis, awalnya hanya gatal biasa tapi kugaruk sampai memerah, dikasi minyak kayu putih juga gatalnya sembuh biasanya, tapi aku menangisinya semalaman.

Andai gatal-gatal ini bisa kuceritakan, pasti ada saja celetukannya yang mengundang tawa. Bukannya khawatir, lukanya malah jadi terlupakan setelah bicara dengannya.

Pagi ini, 9 hari menuju ulang tahun. Hujan menyambut pagi Penajam.

Hujannya diluar rumah, tapi pipi ikut basah. Habis sahur biasanya tidur, tapi kerinduan lagi-lagi mengalahkan kantuk.

Bersama turunnya hujan, selalu ada keinginan tak masuk akal, bagaimana bisa melangkahi 31 maret itu?

Ulang tahun bukan sesuatu yang penting juga buatku, tapi tiba-tiba jadi sangat menyakitkan setelah menyadari, bahwa tahun ini, untuk pertama kalinya aku tak melewatinya bersama cinta pertama.

🥀

Jumat, 08 Maret 2024

Rindu

Sebenarnya, aku adalah orang yang dipenuhi luka.

Tak ada bagian tubuhku yang luput dari luka-luka itu.

Lukanya semakin perih saat malam hari menjelang tidur.

Aku sendirian, dan rasanya sakit sekali. Luka itu bermula, saat aku kehilangan bapak tahun lalu.

Waktu terus berjalan, lukanya bukannya sembuh, malah semakin perih memasuki Ramadan.

Aku kesepian, sejak bapak tidak ada. Aku mudah sekali marah, saat bapak sudah tidak ada. Aku mudah menangis sejak bapak pergi, rasanya kepalaku penuh dengan stok cerita untuk bapak.

Tidak hanya saat Ramadan, ada satu waktu lagi yang rasanya tidak ingin kulewati pasca kepergian bapak, yakni ulang tahun. 

Bulan ini akan jadi momok menyakitkan lainnya. Aku kehilangan satu ucapan, satu doa dan satu telepon di hari itu.

Dan ingin sekali rasanya melewati satu hari itu, Maret di 31.

Aku merindukan gelak tawanya diujung telepon, dan rasanya sakit sekali.

Rabu, 06 Maret 2024

Untuk Banyak Kebaikan

 Untuk si baik hati yang sebulan ini memberiku banyak sekali cinta.

Terimakasih banyak untuk mu. Entah kebaikan apa yang pernah kulakukan dimasa lalu sampai Tuhan membalasnya dengan dirimu.

Rasanya setiap waktu yang dihabiskan bersamamu adalah waktu-waktu keberuntunganku.

Aku yakin semua orang tahu bahwa aku sangat lengkap sekarang.

Jauh berbeda dari aku September 2023 lalu. 

Dimanapun kamu berada, dengan siapapun kamu kelak, aku tidak akan berhenti mendoakan kebaikanmu.

Entah dengan siapa kamu pada akhirnya, aku hanya ingin kamu tau bahwa aku senang melihat matamu yang menyipit saat tersenyum, aku senang melihatmu tertawa, aku senang kamu selalu dalam kebaikan.

Beberapa tahun kemudian, jika hidup kita masih berlanjut namun jalannya berbeda, aku tidak keberatan jika harus menjadi pendengarmu lagi. Tak peduli dikondisi apapun.

Sebab aku paham, kebaikan dan banyak cinta yang kamu beri, tak akan habis masa untuk membalasnya.

Minggu, 25 Februari 2024

Kepada Manusia Romantis Tapi Tak Bisa Ungkapkan Perasaan

 Aku ingin berterimakasih kepada Tuhan,

Cara-Nya menunjukkan apa itu romantis sungguh diluar dugaan.

Bertemu denganmu salah satunya.

Kamu yang dipenuhi banyak cinta, dipenuhi banyak kebaikan.

Lewat kamu, aku jadi merasa sangat dicintai, dan tahu caranya mencintai. 

Segalanya denganmu dipenuhi romantisasi. Aku menyukai itu, dunia yang hilang dari pandanganku untuk waktu yang sangat lama.

Aku ingin memberitahumu bahwa aku sangat menyukaimu, menyukai cara kita bertemu, cara kita jatuh cinta.

Aku sangat menyukai waktuku yang berharga habis hanya dengan berkeliling tanpa tujuan denganmu.

Aku menyukai caramu menyatakan "nit, aku sayang kamu," tanpa pernah mengatakan itu ditelingaku, atau di room chat ku.

Aku menyukai caramu menunjukkan betapa pedulinya kamu dengan chat singkatmu yang hanya sekedar, "aku jemput ya,"

Aku bahagia denganmu yang suka menggenggam, menurunkan stan kaki, memakaikan helm, aku menyukai kamu yang act of servicenya ugal-ugalan.

Kalau boleh memberitahumu satu hal, aku berada diposisi tak suka siapapun dan tak percaya siapapun saat awal bertemu denganmu.

Aku juga ingin memberitahumu hal lainnya, bahwa bersamamu aku tidak hanya bahagia, tapi juga sesekali ada ketakutan.

Mungkin akhirnya akan sama, mungkin lagi-lagi aku akan menjadi pihak yang ditinggalkan.

Atau mungkin saja aku lagi yang akan sakit, tetapi tetap dicap sebagai orang jahat yang menyakiti.

Kamu mungkin perlu tahu, bahwa di kehidupanku yang selalu bahagia dan kamu anggap tak kurang, penuh dengan label dari orang sok tau. "Jangan percaya Nita, dia suka nyakitin orang," "jangan sama Nita, dia ga pernah serius sama laki-laki," "Nita bakal nyakitin kamu, dia ga punya hati," 

Ketakutan semacam itu juga tak jarang membersamaiku saat malam. 

Bagaimana kalau kamu percaya, bagaimana kalau suatu hari nanti salah satu orang sok tau itu bercerita padamu, tentang anggapan mereka yang keliru.

Bagaimana kalau kamu lebih percaya mereka dibanding aku.

Terlepas dari itu, Denganmu, rasanya aku ingin memberikan segalanya. Bahkan kalau bisa, aku ingin mengusahakan yang tidak kita bisa.

Aku mungkin akan merepotkan Tuhan akhir-akhir ini, doaku bertambah. Semoga kamu sehat dan panjang umur, agar suatu pagi aku bisa melihatmu saat buka mata :)





Jumat, 17 Februari 2023

Tentang Ayah

 Apa yang paling kamu sukai dari ayah ?

Aku suka menceritakan hal random bersama ayahku, entah sapi tetanggaku yang hilang, entah berita pembunuhan yang kuliput, atau hari ini aku jajan apa.

Ayah juga suka bercerita banyak hal kepadaku.

Bercerita soal ibu yang suka usil kepadanya, bercerita soal adeku yang berbicara dengan kucing kesayangannya, membicarakan baju ibu yang memenuhi seluruh lemari yang ada dirumah, atau membicarakan kakaku yang tidka pernah mau menunjukkan kelemahannya pada ayahku.

Kami bertukar cerita setiap malam. Dan cerita kami selalu diawali dengan, yah, aku ada cerita, masa kan..

Cerita dengan ayah selalu diselingi tawa. Ayah juga tidak akan pernah membuat aku ketinggalan berita terbaru yang terjadi dikampung.

Entah anaknya si A yang cerai, anaknya si B yang lari dari rumah.

Memang se kompleks itu suasana di kampungku.

Ayah menceritakannya dengan antusias, kadang sambil berbisik kalau ada ibu. Ibu pasti akan memarahi ayah kalau menyampaikan cerita demikian kepadaku.

Dengan ayah, aku tidka ragu berecerita apapun, bukan berarti dengan ibu, aku tidak bercerita, aku juga banyak beceirta keseharian ku dengan ibu, hanya saja kadang kalau butuh nasehat, aku akan mencari ibu, kalau butuh tertawa, aku akan mencari ayahku.

Tanpa sadar, ibu dan ayahku menua. Aku hanya menemani mereka lewat cerita.

Aku belum menyediakan apapun untuk mereka. Aku tidak mendengarkan seluruh cerita mereka. Aku hanya mendengar apa yang mau mereka ceritakan.

Aku tidak hadir di keseharian mereka.

Aku rindu.

Kamis, 16 Februari 2023

Kepada Kenangan

 Bagaimana rasanya memiliki pasangan? Tentu saja sulit.

Tapi ada yang terasa menyenangkan soal membagi hidupmu dengan seseorang.

Maksudku membagi hidup dengan seseorang adalah, kami tumbuh bersama.

Aku membaca semua tulisannya selama ia mengejar cita-cita dan masa depannya untuk bekerja di beberapa perusahaan.

Dia membaca setiap tulisanku.

Kami saling memberi pengaruh besar.

Dia berasal dari latar belakang yang semuanya tak pernah cukup baik.

Itu sesuatu yang sangat membebaninya.

Tapi bersamaku, ada keinginan untuk mencoba sesuatu tanpa takut gagal dan tertarik pada berbagai hal. Itu membebaskannya.

Senang rasanya melihat dia tumbuh.

Kami berdua tumbuh dan berubah bersama.

Tapi itu juga bagian yang sulit. Tumbuh tanpa makin berjarak. Atau berubah tanpa membuat yang lainnya takut.

Aku masih mendapati diriku berbicara dengannya di pikiranku, mengulangi perdebatan lama, dan membela diriku dari ucapannya tentang aku.


Kepada Randu Anangga, maukah kau selalu pulang padaku dan menceritakan harimu?

Ceritakan tentang pria dikantor yang terlalu banyak bicara. 

Noda di kemejamu saat makan siang. 

Ceritakan tentang pemikiran lucu saat kau bangun tapi kau lupa.

Ceritakan tentang betapa gilanya semua orang, dan kita bisa menertawakannya.

Meskipun kau pulang larut dan aku sudah tidur, bisikan saja ke telingaku pemikiran kecilmu hari ini.

Karena aku suka caramu memandang dunia.

Aku sangat bahagia berada disisimu, dan melihat dunia lewat matamu.

Senin, 13 Februari 2023

Rumah


Akhir-akhir ini aku suka membayangkan sebuah rumah.

Rumah impian yang desainnya telah mendekam cukup lama di kepala.

Rumah itu adalah tempat nyaman yang akan aku gunakan sebagai tujuan pulang, entah didalamnya ada yang menunggu, atau entah aku sendirian yang mengucap salam sekaligus menjawab.

Dikepalaku, rumah itu minimalis. Hanya ada dua kamar, ruang keluarga yang bersambung dengan ruang tamu juga, kuusahakan ada tv yang menempel didinding ruangan bagian itu. 

Ada dua macam sofa yang akan menghiasi ruang keluarga dan ruang tamu. Masing-masing sofa minimalis, kapasitasnya tiga sampai empat orang. Aku akan membelinya dengan motif yang berbeda atau bentuk yang berbeda juga.

Tidak lupa juga akan ada karpet nyaman yang estetik, agar kaki orang yang datang tidak kedinginan saat menginjak lantai.

Aku tidak terlalu memikirkan warna, tapi aku sangat menyukai abu-abu atau mungkin hijau tosca.

Diruang keluarga, aku akan melengkapi dengan rak buku di pojokan. Rak kecil yang cukup tinggi, aku bermimpi akan mengisinya dengan berbagai jenis dan judul buku kesukaanku.

Entah ruang keluarga ini akan aku gunakan bersama siapa.

Kemudian di dua kamarnya, masing-masing akan ku lengkapi dengan kasur lantai, tidak mahal. Dan kapasitasnya hanya satu hingga dua orang. Kemudian di depan kasur akan ada karpet berbulu yang menjadi pelengkap.

Kasur yang tidak mahal itu akan ku hiasi dengan sprei yang lucu, mungkin akan satu set dengan bedcover, atau mungkin selimutnya beli sendiri.

Kemudian dapurku juga akan kutata lebih minimalis lagi, hanya ada kompor dua mata, piring kaca berwarna putih sebanyak lima buah, kemudian gelas ukuran sedang juga akan kubeli yang mug lima buah.

Sendok garpu akan kubeli masing-masing satu lusin, juga dengan mangkok untuk makan mie atau sayur, sebanyak dua buah. Tidak lupa talenan, panci, wajan dan cobekan, serta sutil.

Lalu di wastafel kecil, aku akan membeli yang sangat sederhana dan murah, aku tinggal sendiri jadi tidak akan ada banyak cucian perabotan yang menumpuk.

Aku terus membayangkan sebuah rumah minimalis itu akhir-akhir ini, hanya rumah itu beserta isi yang kusebutkan barusan. 

Anehnya, aku sama sekali tak memikirkan dengan siapa aku akan tinggal dirumah itu.

Jumat, 27 Januari 2023

Tentang Ibu Kota Baru

 Apa pendapatmu tentang Ibu Kota Baru ?

sama dengan sebagian kecil orang. Aku setuju dengan pemindahan ibu kota ke Sepaku Kalimantan Timur.

Menurutku, pemindahan ini mau tidak mau harus siap untuk disambut, suka tidak suka.

Pindahnya ibu kota ke Sepaku, hanya akan menguntungkan orang yang mampu mengambil peluang, dan orang yang mampu mengambil peluang adalah orang yang berani bergerak.

Peluang itu, kini baru ditangkap oleh warga Sepaku. Atau warga yang saat ini mendiami lokasi ibu kota itu. 

Disana, hampir sebagian besar orang memiliki usaha sendiri sejak megaproyek IKN membabi buta pembangunannya. 

Mulai dari usaha laundry, galon, ayam petelur, makanan cepat saji, makanan dan minuman ringan, hingga penginapan.

Sempat berbincang dengan camat Sepaku waktu itu masih pak Adi Kustaman. Dia menyebutkan bahwa setidaknya sudah ada sepuluh rumah warga yang disulap menjadi penginapan, dan selalu ramai oleh tamu.

Belum lagi, warga yang memiliki modal cukup, membangun cafe atau sejenisnya. Hanya menyediakan es kopi dan kentang, tapi pengunjungnya tidak pernah sepi bahkan antri sejak pagi.

Hal itu kemudian membuka lapangan pekerjaan bagi warga yang ada di Sepaku. Anak yang baru lulus SMA, tidak bisa lanjut kuliah, lalu bekerja menjadi pramusaji di cafe-cafe tersebut.

Lantas, sebagian orang juga ada yang tidak setuju dengan pemindahan ini, menganggap bahwa megaproyek ini terburu-buru, terkesan dipaksakan, dan daerah asal malah tidak dapat apa-apa.

Tidak salah, memang betul bahwa IKN baru diumumkan pemindahannya pada 2019 lalu. Seiring pengumuman itu, tenyata tak berselang lama langkah awal pembangunan juga langsung digenjot. Jika itu terkesan buru-buru, harusnya ada yang terlupa kan ? bukankah seperti itu hakikat dari buru-buru ?

Tapi sejauh ini, kita melihat semuanya baik-baik saja. Pembangunan berjalan, infrastruktur tinggal menunggu peresmian, kantor tahun depan sudah ditempati. 

Ada pula yang menganggap bahwa ini terkesan dipaksakan. Kemampuan anggaran terbatas, tapi IKN malah dirancang dengan konsep kota masa depan, yang membutuhkan anggaran sebesar Rp466 triliun.

Perlu diketahui bahwa anggaran yang dibutuhkan itu, hanya 30 persen yang ditanggung oleh APBN kita, sisanya akan dikerjasamakan dengan pihak ketiga atau investor. 

Rancangan kota masa depan IKN tentu membuat investor akan tertarik bukan? kota masa depan yang berada didalam kawasan hijau, dibangun dengan tetap mempertahankan keaslian hutan, menggunakan kendaraan yang bebas polusi.

Dengan keunggulan itu, aku pikir tidak ada alasan investor untuk tidak tertarik bergabung dengan pembangunan IKN.

Aku setuju IKN pindah. Dan aku menantikan saat-saat seperti ini.

Sabtu, 29 Oktober 2022

Apa kabar, mantan ?

 Tidak ada yang salah, aku yang belum bisa menerima dengan tabah


Tidak ada yang belum selesai

Hanya aku yang belum bisa mengendalikan intuisi


Tidak ada yang perlu disesali

Hatiku saja yang perlu diisi kembali.


Aku menyibukkan diri menyalahkan keadaan akhir-akhir ini

Aku lupa bahwa yang terjadi, sungguh diluar kendali


Aku sibuk membenci sana sini

Tapi aku luput mengevaluasi diri sendiri 


Berdalih tak lagi punya rasa

Padahal sesungguhnya hanya menyembunyikan asa


Betapa sesungguhnya hati begitu tersiksa

Karena merasa keputusan untuk mengakhiri adalah sia-sia


Kini, berusaha terlihat baik-baik saja, 

Padahal rindu terus mencabik tak kenal masa


Sebesar itu ia mencinta, 

Sampai-sampai ribuan tulisan ia cipta

Dan hanya ia yang bisa mengerti maknanya


Tetapi mirisnya, sosok yang ia damba

Sibuk bercumbu dibawah cahaya

Bersama wanita penggantinya.


Mantan kekasih, apa kabarmu ?

Dariku, yang menyesal dengan penuh


Kamis, 13 Januari 2022

Terimakasih Berau

 Hari kepulangan ku dari Berau,

Setelah setahun lebih menjadi warga Berau yang sangat amat dimudahkan dalam segala hal, akhirnya hari itu tiba.

Hari dimana kembali harus menemui realita kehidupan di kota besar, yang dipenuhi hedonisme.

Hari dimana pemandangan setiap aku buka mata padatnya kendaraan, ramenya pusat perbelanjaan, riuhnya antrian makanan cepat saji.

Aku tahu, Aku akan sangat merindukan kehidupan damai di Berau, 

Aku pasti akan sangat rindu mereka semua, Bang Radian, orang yang sangat sangat baik, tidak ada kata untuk kebaikan orang ini (kalimat pertama yang sukses membuat air mata akhirnya mengalir). Aku berhenti beberapa lama memikirkan apa yang akan kutulis tentang bang Radian, sialnya aku tidak menemukan kalimat paling tepat menggambarkan kebaikannya, secara pribadi aku ingin sekali menemuinya, pamit dan bersalaman. 

Bang Yudi, Abang pengayom yang selalu mengiyakan apapun yang aku minta, kopi, mic, bahkan kerjaan.

Marni, Sahabat, saudara, si kocak yang random, jam 2 malam menghubungi untuk makan, setiap hari menelpon, bertanya sudah makan atau belum. Ingin sekali rasanya memeluk erat si cewek tomboy ini.

 Rama, si anak baik hati, yang guyonannya selalu nyambung, paling suka mendengarkan segala curahan, paling siap diajak kemanapun, si pemilik senyum manis.

Dayat, Kaka laki-laki pemberi tanpa pamrih, sebagian  besar tulisan berita onlineku, disokong laki-laki kulit putih ini, aku ingin sekali memberinya hadiah, tapi itu sama saja aku pamit kan, hehe aku tidak sanggup.

Adam, laki-laki cerewet yang selalu siap dengan kamera, selalu mengirim foto tanpa basa basi, selalu menjadi planner untuk liburan bermakna kami.

Seno, anak baru yang gaulnya minta ampun, selalu sibuk mengurusi tetek bengek banyak orang, pekerja keras tanpa embel-embel. Sen, kamu harus jadi orang sukses. Harus!

Renata, sahabat cantik yang beberapa waktu terakhir menjadi gandengan di setiap liputan. Mungkin cuma aku yang menganggap kita begitu akrab, tapi aku sangat menyayangi Renata, kagum dengan kecerdasan Renata, kadang ingin seperti Renata yang suka dan jago sekali dalam hal jualan.

Bang Samuel, Abang-abang humas, yang paham aku sangat detail, Nita suka ngemil kan, ini ambil aja cemilannya, Nita biasa tidur jam berapa? Nita pasti suka ngopi kan? Abang-abang humas yang suaranya lembut sekali.

Bang Ari Ajudan, abangku yang membawaku memulai semua ini, yang pertama kali membawaku melihat indahnya Berau, Derawan, Maratua, Biduk-biduk, Kaniungan, labuan Cermin, Abangku yang sewaktu pindah jabatan, membuat patah hati begitu dalam. Abangku yang tidak pernah membuat siapapun menunggu tanpa kepastian.

Mba Amel, kakak perempuan ku di Berau, menemani belanja apapun, suka sekali memberiku barang dan makanan , suka sekali mengajakku bergerak mencari berita, memberi nasihat apapun, saran apapun. Mbak, aku menangis untuk mengucapkan mba kakak perempuan nita.

Embul, Tak pernah bosan membuat tertawa. Walau kadang bercandanya suka keterlaluan, tapi dia salah satu teman yang kadang membuatku lupa waktu ketika mengobrol. Tetap lucu ya mbul.

Miko, gondrong lembut tutur, yang selalu menyokong aku dengan berita tv, selalu memberi lebih dari apa yang aku minta, selalu penuh tanda tanya, selalu susah ditebak, yang sedari awal aku disini, setiap pagi selalu bertanya ke Ikbal "kamu nda ajak Nita liputan?".

Ikbal, kakak laki-laki, selalu jadikan tameng, apapun keadaannya, kalau ada yang tanya aku selalu ngomong, "di Berau aku ada kakak, namanya ikbal", siap siaga ketika aku sakit, siap siaga dimintai tolong, selalu khawatir kalau aku pergi jauh, sedari awal bersama Miko, mengenalkan ku dengan yang lainnya, yang sejak awal aku dsini, bersamaku hampir setiap hari,Ikbal juga mencarikan aku tempat tinggal nyaman, sampai aku bertemu dua hal yang kusebut sebagai anugerah besar yang Tuhan berikan selama aku di Berau, Micha dan mamanya.

Sofi, aku menganggapnya sebagai sahabat perempuan, menolongku tanpa kata tapi, tak peduli sedang apa, ketika aku bertanya, butuh bantuan, dia akan langsung mendatangi, sebagian besar yang kualami di Berau, Sofi juga ikut mengalaminya, dulu dia adalah satu2nya teman Perempuanku di Berau, sebelum punya motor, dia yang selalu meminjamkan motornya untuk liputan, hampir setiap hari kami makan di kantin polres, dia juga yang mengenalkan ku pada beberapa orang, yang banyak memberiku pelajaran, Sofi si pemberi hadiah kepadaku paling banyak selama aku di Berau.

Micha dan ka Desi mamanya, kusebut mereka anugerah langsung dari Tuhan, sejak kepindahan kamar kostku, aku bertemu mereka, dua orang penyayang dan sedari pagi menjadi penyapa paling manis di balik pintu, memanggilku dengan nama "Hay", menjadikanku anak dan kakak Micha, setiap makanan yang dimakan Micha selalu ada bagian untukku, setiap pagi sebelum bangun, sudah ada sarapan diatas meja untukku, tak pernah dia memasak tanpa berbagi kepadaku, Micha yang tak bisa seharipun aku tak melihatnya, kalau aku liputan jauh, selalu kirim foto atau vc, sekedar untuk melihat pipi tembem bakpaunya. Kelak ketika besar, semoga Micha tetap jadi anak kuat dan baik.

Arif Wahyud, om Agus, Rizal, om Lalu, bang Bobi, Bang Wawan, Enjel, kak Hasan, Ariffatul, Fuad, bang Hamid, pak Heri, om Ery, kak Edi dan keluarganya, Juna, Om Ded, ibu Surlina, bapak, tetangga kost yang ramah, pemilik warung depan gang yang selalu ngasih bonus kardus, pak Pinem, pak Suradi, 

Aku tak tau kesan tulisan diatas untuk kalian, mungkin sudah bisa dilihat bahwa betapa aku merepotkannya ketika di Berau.

Yang pasti, mereka Semua orang baik yang membuatku sangat merasa berharga, orang-orang baik yang membuatku aku selalu menangis kalau ada pembahasan mutasi disetiap rapat.

Aku menguatkan diriku untuk tidak pamit, aku berbohong kalau aku hanya pergi sementara, aku berusaha keras menjadikan kebohonganku ini suatu kenyataan, padahal, aku harus pindah dalam jangka waktu yang lama, entah sampai kapan.

Aku berusaha keras untuk tidak pamit agar keadaan tidak membuat aku merasa kehilangan, lalu akhirnya menangis. Aku berusaha keras untuk menerima segala hal yang datang dan pergi tanpa peduli perasaanku.

Hehe, akhirnya aku menangis juga. 

Entah benar disayangi atau tidak, tapi aku merasa sangat di sayangi dalam setahun terakhir ini, walaupun mereka pasti sadar bahwa aku sangat menyebalkan, setiap hari merepotkan, setiap hari minta berita, setiap hari mengomel, setiap hari minta jemput, setiap hari ditraktir makan, setiap Minggu ikut liburan ke Derawan atau Maratua.

Apapun itu, aku sangat sangat menyayangi mereka semua, andai ada kesempatan, ingin sekali rasanya membelikan mereka semua hadiah perpisahan, mungkin boneka, jam, topi, sepatu, atau mungkin salaman hangat. Sayangnya aku terlalu lemah untuk hanya mengucapkan "terimaksih banyak, sampai jumpa lagi".

Untuk semua yang ku sayangi di Berau, sampai kapanpun aku sangat menyayangi kalian, sampai kapanpun aku tidak pernah sanggup untuk berpisah dengan kalian, walaupun nilai aku diantara kalian sama saja ada atau tidak. Tapi bagiku kalian sangat berharga.

Suatu hari, aku ingin sekali mengunjungi kembali tempat-tempat yang pernah memberikan aku kenangan luar biasa, baik itu kesakitan, kebahagiaan, perjuangan. Aku ingin mengunjungi kembali tempat itu dalam kondisi manusia paling berbahagia, kaya raya, dan berbeda. 

Aku ingin mereka yang pernah kutemui di tempat itu merasa kagum dan tak henti bertanya perihal hidup yang kujalani setelahnya. Aku ingin suatu hari, aku bisa berterimakasih langsung pada mereka yang pernah kutemui.

Aku harap, ada kekabulan atas ini.

Jumat, 10 Desember 2021

Manusia Kuat


Ada orang yang hanya sekali tes langsung bisa masuk tempat kerja impiannya

Ada orang yang sekali komentar, langsung bisa menang give away barang lucu incarannya

Ada orang yang belajarnya bercanda, tapi lulus ujian PNS yang susah dan berhasil membanggakan orang tuanya.

Ada orang yang ritme kerjanya sama, tapi entah kenapa dia bisa naik jabatan dan punya gaji 3 kali lipat lebih besar.

Sementara kita, berjuang mati-matian untuk ikut pendaftaran tempat kerja favorit, tapi tak kunjung di terima.

Ada diantara kita yang harus bekerja di perusahaan kecil, gaji tidak jelas dan sangat jauh dari rumah, hanya untuk bertahan hidup, padahal kemampuan dan skill nya sangat mumpuni.

Beberapa juga harus begadang setiap malam untuk menunggu kesempatan emas agar diterima dan lulus PNS sesuai harapan ibu, tapi masih saja selalu gagal.

Belum lagi yang menyebar ratusan bahkan ribuan lamaran, tapi tak kunjung dihubungi kembali.

Ternyata, Tidak semua orang punya keberuntungan. Meski beberapa diantara kita harus melalui jalan berputar - putar dan tak tentu arahnya, tapi Allah memberikan bahu yang kuat dan kepedulian yang tinggi, untuk terus berjuang demi kelayakan hidup dan keluarga.

Aku Sendiri salah satu orang yang tidak punya keberuntungan. Tapi aku sangat bersyukur masih punya keluarga utuh yang sangat hangat dan baik juga sayang kepadaku.

Aku punya beberapa teman yang selalu siap direpotkan.

Aku punya tubuh yang sehat dan tidak pernah mengeluh soal apapun.

Aku punya tetangga kost yang memberikan makanan enak setiap hari. 

Semua hal memang berjalan tak sesuai realita, tapi juga ada hal kecil yang kita miliki, justru yang membuat kita semakin kuat.


Sabtu, 13 November 2021

Toleransi


 Banyak yang merasa tak dicintai,

Hingga tak jarang menuai pertengkaran,

Padahal, mereka hanya berbeda cara dalam mencintai.

Kondisi ini kerap terjadi, dalam hubungan dua anak manusia yang sebenarnya minim toleransi, tapi mereka tak menyadarinya.

Semakin diperparah dengan keduanya tak mau saling mengungkap satu sama lain. Segan berbicara apa yang dimau dan dibutuh, berharap ingin dimengerti, tapi tak mau berbicara.

Padahal pasangannya adalah manusia biasa, bukan paranormal.

_______________

"Suatu ketika aku pernah memutuskan hubungan dengan seseorang yang sangat kusukai, hanya karena dia tak pernah melakukan apa yang umumnya orang relationship lakukan, deep talk, mengingatkan makan, melarang kesana kemari, cemburu, meminta password sosial media dan sebagainya. 

Dia lebih banyak diam, mengiyakan semua hal yang kuminta, tiba-tiba menjemput untuk makan bersama tanpa bilang sebelumnya, tak bermain hp ketika bersama, tak suka posting apapun disosial media.

Aku merasa tak disukai olehnya, hanya karena dia tak melakukan hal yang sama dengan yang kulakukan. Aku mengingatkannya untuk makan, memposting fotonya di sosial mediaku, menelponnya sebelum tidur,  hal - hal itu kulakukan untuk membuktikan bahwa aku sangat menyukainya.

Ternyata, belakang baru aku menyadari, bahwa bahasa cinta setiap orang berbeda, tak sama bukan berarti tak cinta.

Aku sedikit terlambat menyadari betapa pentingnya saling memahami."

Jumat, 12 November 2021

Si kepala batu


 Pada sebuah pertemuan yang terencana, aku mulai menyadari bahwa aku jatuh cinta padanya. Meski seharusnya jangan.

Tapi aku masih memaksa diriku bertanya dan memastikan, walaupun jawabannya bisa ditebak, 

"Kita ga mungkin banget ya", kataku lirih

"Ya, kamu tau sendiri kan", jawabnya sambil melirik.

Aku tidak paham apapun perkara mencintai, yang kutau aku harus menerimamu hanya sebatas cerita yang cukup panjang dalam hidupku.

____________________________

Minggu pagi berikutnya, aku tak sengaja melihat story whatsappmu, memakai kemeja hitam dan celana Chino warna nude, rapi, berdiri dibaris kedua dari belakang, diantara deretan bangku sebuah Pura di kota Balikpapan. 

Aku bergegas mengambil wudhu untuk Sunnah Dhuha :*

Jumat, 15 Oktober 2021

Ikhlas


Ada kah yang lebih menyakitkan selain menjadi pendengar keluh kesah kisah percintaan seseorang yang sangat kamu sukai dengan wanita pilihan hatinya?

Dia tidak bisa tidur karena pikirannya kacau, lantas orang yang disukainya, tambatan hatinya sedang tidak menghubunginya, dia khawatir wanita impiannya disukai pria lain.

Dia lalu menelponmu di jam 2 malam, menjadikanmu pelarian satu-satunya untuk menumpahkan kesahnya. Ia bingung harus bagaimana, ia mendatangimu lalu bercerita segalanya.

Kamu tetap mengangkatnya,dengan suara yang dipaksa kedengeran bukan suara kantuk. Padahal saat ini matamu menghitam seraya menahan lelahnya seharian bekerja keras.

Dia bercerita hampir 4 jam tentang wanita itu, kamu dengan riang, memberikan dukungan dan pujian atas pilihannya.

Padahal, kamu sakit sekali mendengarnya. Telepon di matikan pukul 06.00 pagi, dia tertidur tanpa terlebih dahulu memencet tombol end di handphonenya.


Sabtu, 04 September 2021

Wisata Masa Lalu


 Aku pernah bertemu seseorang, yang dengannya aku sangat merasa istimewa.

Awalnya, Kukira dia takdir, ternyata hanya mampir.
Bersamanya memang singkat
Tapi cukup melekat.
Kukira bersamanya adalah komitmen
Ternyata hanya moment.

Tak perlu kusebutkan namanya, karena kini posisinya ia hanya masa lalu, disamping aku juga telah dibersamai oleh seseorang.

Singkat saja kuceritakan, dia adalah seseorang yang saat itu harus selalu melihatku, mungkin ceritaku agak berlebihan dan terkesan lebay atau aku di anggap bucin, tapi memang begitulah adanya.

Setiap hari, dia harus melihatku, bagaimanapun keadaanya, hujan, atau secapek apapun dia, harus ada satu waktu yang di sempatkan untuk hanya sekedar melihatku.

Jadilah kami berdua menyisihkan waktu di malam hari, usai sholat isya untuk sekedar bertemu, makan atau naik motor berkeliling, kadang 2 jam cukup, atau bahkan hanya 30 menit saja.

Di moment itu, dia tidak akan makan malam jika tidak bersamaku, dia lebih memilih kelaparan, dibanding makan tanpa aku didekatnya. Kadang aku sudah makan tapi tetap harus menemaninya makan, biarpun hanya sekedar duduk didekatnya, yang penting ada aku, katanya.

Semua makanan dan tempat makan terbaru yang sedang hits dikota ini, semua ia datangi ketika bersamaku, mulai dari restoran pizza, ice cream, hingga tempat ayam yang baru buka dan biasa aja, kami berdua datangi.

Ia adalah seorang yang menjemputku dengan motor, jarak rumahnya dan rumahku, lumayan jauh, kami berbeda kecamatan, dan ia dengan senang hati melakukan itu. Ketika bersamanya, dia akan menurunkan stand kaki dimotor sebelum aku bilang, dia akan menguncikan helm tanpa aku minta.

Ketika dengannya, kamu tidak boleh duduk didepannya, dia akan mengangkat kursi agar kamu duduk disampingnya. Dia seorang perokok, tapi ketika bersamaku, dia akan meminta izin terlebih dahulu, aku pernah melarangnya dan dia betul-betul tidak menyalakan rokoknya ketika bersamaku, tapi pada akhirnya aku bilang silahkan. Dia kemudian akan mencari tempat yg aman dan memastikan aku tidak terkena asap rokoknya.

Dengannya, aku tidak pernah membayar makanan ataupun minuman yang kupesan, meskipun aku berlomba untuk membayar, dia akan selalu mengembalikan uangku besoknya. 

Dia juga sangat suka memperkenalkanku pada teman-temannya, ataupun hanya rekan kerjanya. Dia akan selalu bersikap manis ketika bersamaku, tidak peduli berapa banyak orang yang melihat, dia akan memegang tanganku, selalu.

Moment seperti itu terjadi setiap hari selama tiga bulan. Karena keseringan keluar malam, tanpa memakai jaket, akhirnya dia sakit dan harus dirawat di UGD selama beberapa waktu. Dan jahatnya, aku mengetahui itu, setelah ia sembuh dan menceritakannya padaku.

Setelah ia sakit, waktu tiga bulan yang kami lalui itu, perlahan tidak lagi sama. Apalagi setelah aku mulai bosan dengan keadaan yang menurutku tidak jelas.

Sudahkah kujelaskan bahwa aku dan dia tidak memiliki hubungan apa-apa? 

Benar saja, aku dan dia hanya teman, dan aku baru sadar ketika, aku bertanya untuk memastikan. Dia tidak menjawab apapun, ketika aku bertanya, "what do you want"?
Kuanggap maksud diammnya adalah, "aku hanya kesepian".

Sejak saat itu, aku mulai menjaga jarak, aku hanya sesekali membalas pesannya atau mengangkat telponnya. Dia masih sangat rutin menghubungiku. 

Sampai pada saat aku sangat lelah, aku memblokirnya disemua sosial media, tapi dia selalu punya cara, dia download telegram, dan berusaha menghubungiku disana. Tak ada respon apapun dari aku.

Hingga tadi malam ku beritahu, bahwa aku tidak lagi ingin berkomunikasi dengannya, sebagai apapun itu. Ku beritahu bahwa Saat ini aku telah bersama bias yang lain, maksudku, aku sudah punya seseornag yang bisa mengisi kekosongan dalam diriku. 

Kujelaskan padanya bahwa ketidak pastian yang pernah dia tawarkan dulu, akan kuakhiri sendiri, aku tau dia pasti akan tertawa krna aku mengakhiri sesuatu yang tidak pernah dimulai. 

:)



Senin, 16 Agustus 2021

Si pemilih yang kesepian


 Ya aku memang pemilih, standar ku memang terlalu tinggi untuk seorang laki-laki yang akan kujadikan pasangan. Untuk itulah aku masih memilih sendiri.


Laki-laki yang mau menjadi pasanganku, harus laki-laki yang mengerti segala tentang aku, dia harus paham aku tidak suka makanan pedas, aku tidak suka susu fullcream, aku tidak suka makanan bersantan, aku tidak suka menunggu, ya aku tidak sabaran memang. Dia harus memahami ku lebih dari aku memahami diriku sendiri, bahwa aku sangat egois, aku mudah sekali baper, aku mudah marah dan mudah tersinggung, dia harus tau bahwa aku suka bercanda tapi aku tak suka di bercandai.

Lelaki yang mau dijadikan pendamping olehku, haruslah laki-laki yang siap untuk direpotkan, karena aku sangat manja, aku tidak bisa membuka botol air minum, aku tidak membuka bungkus permen, aku tidak suka naik motor ketika panas matahari dan ketika malam hari, aku harus selalu di bonceng, laki-laki yang mau denganku harus tau bahwa aku mabuk ketika naik mobil dan duduk dibelakang, dia harus siap dengan aku yang sangat suka merengek dan mengungkit masa lalu ketika sedang kesal.

Jika dia mau denganku, dia harus selalu mengabariku tanpa membuat aku bosan dengan kabarnya, dia harus nyambung ketika kuajak ngobrol apapun, entah pekerjaan, keluarga, teman, buku, bakso paling enak, Boba yang tidak keras, atau kopi yang rasanya pas, dia harus nyambung segala hal denganku.

Aku memang pemilih, laki-laki yang suka padaku itu harus memberiku semangat dipagi hari dengan suaranya yang khas, dia tidak boleh mengingatkanku makan atau sholat, dia hanya perlu mengajakku makan bersama dan mengirimiku pap ketika dia habis sholat.

Lelaki yang ingin bersamaku harus aku tau kemanapun dia pergi dan dengan siapa, dia harus membalas pesanku, dan dia harus tau kalau aku sangat membenci yang namanya cemburu dan khawatir.

Aku pemilih ? Standarku terlalu tinggi? Iya, karena aku hanya ingin menikah dan jatuh cinta sedalam dan selamanya dengan orang yang sama sampai aku mati.

Jumat, 06 Agustus 2021

Titik Terendah


Hariku hancur, pagi ini aku melihat pengumuman bahwa aku tidak lulus seleksi disalah satu lowongan pekerjaan yang kulamar, lalu menyusul seseorang yang kusukai, tiba-tiba pamit untuk meninggalkan aku.

Belum lagi semalam, perusahaan tempat ku bekerja, ternyata belum bisa membayar gaji karyawannya secara full selama 4 bulan.

Hariku sakit, tak tau lagi harus kemana dan berbuat apa, aku memutuskan untuk mengambil libur hari ini. Tak bekerja karena pikiran sedang kacau balau.

Hariku berantakan, saat harusnya aku punya pundak lain untuk bersandar, tapi kenyataannya, aku sendirian, dan harus memeluk erat semuanya dengan lengan sendiri.

Hariku tak karuan, aku sendirian, tak ada siapapun, aku masih disini, diatas sajadah sejak subuh tadi, skincare pagiku tak berguna sebab ditimpa air mata berkali-kali.

Mataku lebam kanan kiri. Ragaku seperti hancur termakan ekspektasi.

Minggu, 21 Februari 2021

Pamit yang tertunda


 Assalamualaikum, selamat malam...

setelah sekian lama bergelut dengan wordpress dan kompasiana, akhirnya aku menulis lagi di blogspot kesayangan ku ini.

aku tau beberapa pembaca memang hanya tertarik untuk membuka ini karena ingin tau siapa yang sedang kusukai, atau siapa yang sedang kurindukan. Beberapa lagi berharap ada namanya ku sebut dalam tulisanku. Meski pembacaku tak banyak, tapi aku tau 90 dari 100 pasang mata yang membaca dsini hanya ingin kepo tentang kehidupanku.

hey, its okey, aku tidak keberatan. Namun secara sederhana kujelaskan, aku akhir-akhir ini memilih tertutup, aku tidak banyak menceritakan perasaanku pada tulisan. Sebab entah mengapa aku merasa sangat tidak punya waktu untuk itu.

tapi tidak papa, biar ku gambarkan saja apa yang kulakukan akhir-akhir ini, aku banyak membantu teman-teman seprofesiku yang terhitung masih baru disini, bebeapa sering meminta bertemu, beberapa lagi rutin menelponku untuk bertanya hal-hal yang telah lebih dulu aku dapatkan.

dengan kesibukan-kesibukan itu aku jadi tidak memiliki banya waktu untuk menulis segala hal yang kurasakan disini, ya meskipun sebelumnya aku memang telah bergelut dengan wordpres dan kompasian sih.

saat ini, aku merasa sangat rindu pada blog ini, merindukan tulisan ku yang acak-acak tentang seseorang, tentang rindu, atau tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan.

aku rasa blog ini banyak memberiku kenangan pilu.

namun pada akhrirnya, aku memang memilih untuk tidak lagi berbagi perasanku secara khusus di blog ini, dulunya aku memanfaatkn media ini agar suatu saat nanti seseorang yang kusukai bisa tau perasaanku, tapi nyatanya setelah dia tau, dia juga sama  sekali tidak peduli.

itulah mengaapa, aku menyibukkan diriku dengan mencoba kegiatan tambahan, selanjutnya mungkin aku akan menulis lagi disini, tapi entahlah temanya apa, aku juga tidak tau.